Istilah tunagrahita (mental retardation) dapat diartikan sebagai individu atau anak yang memiliki IQ di bawah rata-rata normal antara 50 - 70 menurut skala Binet, disamping itu mereka memiliki kecerdasan dan kemampuan adaptasi tingkah laku yang terbatas yang dapat menyebabkan timbulnya permasalahan-permasalahan yang harus dihadapi pada masa perkembangannya (sejak masa konsepsi hingga usia 18 tahun).

Tuna grahita berasal dari bahasa sanskerta, tuna artinya rugi, kurang dan grahita artinya berfikir, tunagrahita dipakai sebagai istilah resmi di Indonesia sejak dikelaurkan peraturan pemerintah tentang pendidikan luar biasa nomor 72, tahun 1991.

Pengertian Tunagrahita Menurut Para Ahli

Anak tunagrahita merupakan anak yang memiliki IQ di bawah rata-rata dan memiliki kemampuan adaptasi tingkah laku yang terbatas. Menurut American Association on Mental Deficiency (AAMD) yang dikutip oleh Grossman (Kirk & Gallagher, 1986) dan dialih bahasa oleh Astati dan Mulyati (2010:9) bahwa :

Tunagrahita mengacu pada fungsi intelektual umum yang nyata berada di bawah rata-rata bersamaan dengan kekurangan dalam adaptasi tingkah laku dan berlangsung dalam masa perkembangan.

Selain itu, Amin (1995:15) mengemukakan bahwa: “anak tunagrahita adalah anak yang memiliki kecerdasan dibawah rata-rata, mengalami hambatan tingkah laku penyesuaian dan terjadi pada masa perkembangannya”.

Pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian anak tunagrahita adalah anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata anak pada umumnya secara signifikan dan mengalami hambatan dalam proses adaptasi tingkah laku yang terjadi pada masa perkembangannya, seperti kurang mampu melakukan hal-hal yang umumnya biasa dilakukan oleh anak normal seusianya.

Karakteristik Tunagrahita

Setiap individu tentunya memiliki karakteristik tertentu yang tidak dimiliki oleh individu lainnya tidak terkecuali anak tunagrahita. Anak tunagrahita memiliki karakteristik khusus yang harus dipahami oleh guru. Pemahaman karakteristik anak tunagrahita dapat memberikan manfaat bagi guru dalam memberikan pelayanan pendidikan, karena dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program, melaksanakan pembelajaran, dan merencanakan tindak lanjut, agar dapat berjalan secara optimal.

Karakteristik anak tunagrahita, menurut Page dalam Astati & Mulyati (2010:15-18) sebagai berikut :

Kecerdasan

Kapasitas belajar anak tunagrahita sangat terbatas, terutama untuk hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan cara membeo (rote learning) bukan dengan pengertian. Dari hari ke hari dibuatnya kesalahan-kesalahan yang sama. Perkembangan mentalnya mencapai puncak pada usia yang masih muda.

Sosial

Dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara dan memimpin diri. Waktu masih kanak-kanak mereka harus dibantu terus menerus; disuapi makanan, dipsangkan dan ditanggali pakaian dan sebagainya; disingkirkan dari bahaya, diawasi waktu bermain dengan anak lain, bahkan ditunjuki terus apa yang harus dikerjakan. Mereka bermain dengan teman-teman yang lebih muda daripadanya, tidak dapat bersaing dengan teman sebaya.

Setelah dewasa kepentingan ekonominya sangat tergantung pada bantuan orang lain. Tanpa bimbingan dan pengawasan mereka dapat terjerumus ke dalam tingkah laku yang terlarang terutama mencuri, merusak, dan pelanggaran seksual. Dilihat dari Social Age (SA) mereka juga sangat kecil SQ-nya. (SQ adalah singkatan dari kata “Sosial Quotient” seperti halnya IQ kecerdasan).

Fungsi-fungsi mental lain

Mereka mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian. Jangkauan perhatiannya sangat sempit dan cepat beralih sehingga kurang tangguh dalam menghadapi tugas. Pelupa dan mengalami kesukaran mengungkapkan kembali suatu ingatan. Kurang mampu membuat asosiasi-asosiasi dan sukar membuat kreasi-kreasi baru.

Dorongan dan emosi

Perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaan masing-masing. Anak yang berat dan sangat berat tingkat ketunagrahitaannya, harmpir-hampir tidak memperlihatkan dorongan untuk mempertahankan diri. Kalau mereka lapar atau mereka harus, mereka tidak menunjukkan tanda-tandanya. Demikian pula kalau mereka mendapat perangsang yang menyakitkan hampir-hampir tidak memiliki kemampuan menjauhkan dirinya dari perangsang tersebut. Kehidupan emosinya lemah.

Jika telah mencapai umur belasan tahun dorongan biologisnya biasanya berkembang dengan baik kecuali hubungan heteroseksual tetapi kehidupan penghayatannya terbatas pada perasaan-perasaan; senang, takut, marah, benci, dan kagum. Anak yang tidak terlalu berat ketunagrahitaannya mempunyai kehidupan emosi yang hampir sama dengan anak normal tetapi kurang kaya, kurang kuat dan kurang banyak mempunyai keragaman. Mereka jarang sekali menghayati perasaan bangga, tanggung jawab dan hak sosial.

Organisme

Baik struktur maupun fungsi organism pada umumnya kurang dari anak normal. Mereka baru dapat berjalan dan berbicara pada usia yang lebih tua dari anak normal. Sikap dan gerak layaknya kurang indah. Diantaranya banyak yang mengalami cacat bicara. Mereka kurang mampu membedakan perasamaan dan perbedaaan. Pendengaran dan penglihatannya banyak yang kurang sempurna. Anak yang berat apalagi sangat berat ketunagrahitaannya kurang rentan dalam perasaan sakit, bau yang tidak enak, dan makanan yang tidak enak. Badannya relatif kecil seperti kurang segar, tenaganya kurang, cepat letih, kurang mempunyai daya tahan.

Berdasarkan keterangan di atas dapat peneliti simpulkan bahwa karaktersitik yang dimiliki anak tunagrahita antara lain: kapasitas belajar terbatas terutama hal-hal yang sifatnya abstrak, kurang mampu membina, mengurus, memelihara dan memimpin diri, konsentrasi yang mudah terpecah, tidak memperlihatkan dorongan untuk mempertahankan diri, struktur tubuh maupun fungsi organ pada umumnya kurang dari anak normal seperti pendengaran dan penglihatan yang kurang sempurna, sikap dan gerak kurang indah, daya tahan tubuh kurang, serta sebagian memiliki kemampuan pengucapan kata yang tidak jelas.

Klasifikasi Tunagrahita

Anak tunagahita terdiri dari beberapa klasifikasi. Pengklasifikasian tersebut bertujuan untuk memudahkan para pelaku pendidikan dalam memberikan layanan pendidikan kepada mereka.

Pengklasifikasian anak tunagrahita salah satunya mengacu pada ukuran tingkat intelegensinya, seperti halnya Grossman (1983) dalam Astati dan Mulyati (2010:12) dengan menggunakan sistem skala Binet mengklasifikasikan anak tunagrahita sebagai berikut :

  1. Mild Mental Retardation 50-55 to Aporox, 70
  2. Moderate Mental Retardation 35-40 to 50-55
  3. Severe Mental Retardation 20-25 to 35-40
  4. Profound Mental Retardation Unspecified Below 20 or 25

Dari tabel di atas bahwa anak tunagrahita diklasifikasikan menjadi 4 (empat) klasifikasi, dimana masing-masing klasifikasi memiliki kriteria IQ yang berbeda-beda antara lain: anak yang memiliki IQ antara 50-55 sampai 70 dikategorikan anak tunagrahita ringan, IQ 35-40 sampai 50-55 tunagrahita sedang, IQ 20-25 sampai 35-40 tunagrahita berat, dan anak yang memiliki IQ paling rendah yaitu dibawah 20 atau 25 dikategorikan sebagai anak tunagrahita sangat berat.

Menurut Skala Weschler (WISC) dalam Somantri (2012:106-108) mengklasifikasikan anak tunagrahita sebagai berikut:

  1. Tunagrahita ringan memilliki IQ 69-55. Mereka masih dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung.
  2. Tunagrahita sedang memiliki IQ 54-40. Mereka dapat di didik mengurus diri sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya.
  3. Tunagrahita berat memiliki IQ antara 39-25. Mereka memerlukan bantuan perawatan secara total dalam hal berpakaian, mandi, makan, dan lainya.

Pendapat lainnya menurut Astuti dan Walentiningsih (2011:30-31) klasifikasi anak tunagrahita antara lain :

Tunagrahita ringan

Anak tunagrahita ringan umumnya mampu belajar membaca, menulis, dan berhitung sederhana, pada usia 16 tahun tingkat kecerdasannya sama dengan anak kelas tiga/ lima SD, kematangan belajar membaca dicapai pada usia 9 sampai dengan 12 tahun, dapat bergaul dan mampu mengerjakan pekerjaan ringan.

Tunagrahita sedang

Anak Tunagrahita sedang umumnya tidak mampu mempelajari pelajaran akademik, perkembangan bahasa terbatas, berkomunikasi dengan beberapa kata, mampu menulis nama sendiri, nama orang tua adan alamat, mengenal angka tanpa pengertian, dapat dilatih bersosialisasi, mampu mengenali bahaya, tingkat kescerdasan setara anak usia 6 tahun.

Tunagrahita berat:

Anak tunagrahita berat umumnya selalu tergantung pada orang lain, tidak mampu mengurus diri sendiri, tidak mengenali bahaya, tingkat kecerdasannya setara dengan anak usia 4 tahun.

Mengacu pada beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita terdiri dari tunagrahita ringan, tunagrahita sedang, dan tunagrahita berat.

Tunagrahita ringan memiliki kriteria mampu belajar membaca, menulis, dan berhitung yang sifatnya sederhana, dapat bersosialisasi, dapat diajarkan pekerjaan atau keterampilan yang sifatnya sederhana.

Tunagrahita sedang umumnya sukar belajar akademik, kemampuan berkomunikasi dan menulis yang terbatas, dapat dilatih bersosialisasi meskipun dengan waktu yang tidak sedikit, dan kecerdasannya setara dengan anak usia 6 tahun.

Tunagrahita berat memiliki tingkat kecerdasan yang paling rendah, mereka sangat tergantung kepada orang lain karena kurang mampu membina diri, kurang mampu membedakan yang baik dengan yang buruk, dan memiliki tingkat kecerdasan yang setara dengan anak usia 4 tahun.

Permasalahan yang dihadapi Anak Tunagrahita

Keterbatasan kemampuan yang dimiliki anak tunagrahita seperti halnya memiliki fungsi kecerdasan di bawah rata-rata, kurang mampu berpikir abstrak, dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan dalam masa perkembangannya. Permasalahan tersebut menurut Astati (2001:10) sebagai berikut:

  1. Masalah penyesuaian diri. Anak tunagrahita ringan mengalami kesulitan dalam mengartikan norma-norma lingkungan serta mereka tidak dapat melakukan fungsi sebagai anggota masyarakat.
  2. Masalah pemeliharaan diri. Anak tunagrahita ringan mengalami kesulitan dalam membina dirinya misalnya dalam mengadakan orientasi pemeliharaan diri di lingkungan serta bagaimana kepantasan penampilannya.
  3. Masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar umumnya tampak dalam bidang pelajaran yang sifatnya akademis dan mengandung hal-hal yang sifatnya abstrak.
  4. Masalah pekerjaan. Kurangnya kesesuaian antara keterampilan yang dimiliki dan prilaku vokasional (daya tahan, minat, kegembiraan, komunikasi, penampilan, dll) dengan tuntutan lapangan kerja.

Terhambatnya proses perkembangan menimbulkan berbagai permasalahan yang harus dihadapi anak tunagrahita ringan seperti: masalah dalam beradaptasi dengan lingkungan masyarakat, kesulitan dalam membina diri, kesulitan dalam mempelajari hal-hal yang bersifat akademis dan abstrak, serta pada saat dewasa dapat menghadapi masalah dalam menyesuaikan diri sesuai dengan tuntutan lapangan pekerjaan. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya sejak dini untuk melatih, memberikan pengajaran sesuai dengan potensi yang dimiliki agar anak tunagrahita ringan dapat hidup mandiri pada saat dewasa nanti.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan individu/orang yang memiliki ciri khas seperti IQ di bawah rata-rata, adaptasi sosial yang terganggu dapat dikatakan menyandang ketunagrahitaan yang dikelompokkan menjadi beberapa klasifikasi sesuai dengan kriteria masing-masing klasifikasi. Karakteristik anak tunagrahita yang memiliki IQ di bawah rata-rata menimbulkan permasalahan yang harus dihadapi mereka dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi pada masa perkembangannya yaitu sejak usia konsepsi hingga 18 tahun.

Mohon luangkan waktu untuk share halaman ini di media sosial, agar kami lebih semangat untuk mengupdate konten setiap hari, satu share anda sangat berharga buat kami. Terima Kasih...
Revisi isi halaman ini dengan tombol edit dibawah, apabila menurut anda ada yang keliru, ada yang perlu ditambahkan atau hal lainnya, dengan tujuan agar isi konten lebih baik lagi. Edit