Pengertian Anak Tunagrahita Ringan

Anak tunagrahita terdiri dari beberapa klasifikasi antara lain tunagrahita ringan, tunagrahita sedang, tunagrahita berat dan tunagrahita sangat berat.

Anak tunagrahita ringan merupakan anak tunagrahita yang tingkat kecerdasannya dikategorikan paling tinggi. Anak tunagrahita ringan menurut Mumpuniarti (2010:64) sebagai berikut:

Anak tunagrahita ringan (Mild Mentally Retarded) adalah anak yang tingkat kecerdasannya (IQ) berkisar antara 50 sampai dengan 70. Rendahnya tingkat kecerdasan itu juga mengakibatkan terbatasnya perkembangan pencapaian tingkat usia mental mereka. Tingkat pencapaian usia mental/umur kecerdasan mental setaraf anak usia sekolah dasar kelas enam (umur anak 12 tahun) walaupun sudah mencapai usia dewasa.

Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita ringan adalah anak yang memiliki IQ antara 50 sampai dengan 70 sehingga berdampak pada kurangnya perkembangan usia mental anak tersebut apabila dibandingkan dengan anak pada umumya di tingkat usia yang sama.

Karakteristik Anak Tunagrahita Ringan

Pemahaman ciri-ciri/karakteristik anak tunagrahita ringan sangat berguna untuk lebih memudahkan orang tua ataupun guru dalam menyusun program, memberikan pelayanan dan bimbingan.

Menurut Mumpuniarti (2007:41-42) anak tunagrahita ringan memiliki karakteristik sebagai berikut:

Karakteristik anak tunagrahita ringan dapat ditinjau secara fisik, psikis dan sosial, karakteristik tersebut antara lain:

  1. Karakteristik fisik nampak seperti anak normal hanya sedikit mengalami kelemahan dalam kemmampuan sensomotorik.
  2. Karakteristik psikis sukar berfikir abstrak dan logis, kurang memiliki kemamuan analisa, asosiasi lemah, fantasi lemah, kurang mampu mengendalikan perasaan, mudah dipengruhi kepribadian, kurang harmonis karena tidak mampu menilai baik dan buruk.
  3. Karakteristik sosial, mereka mampu bergaul, menyesuaikan dengan lingkungan yang tidak terbatas hanya pada keluarga saja, namun ada yang mampu mandiri dalam masyarakat, mampu melakukan pekerjaan yang sederhana dan melakukan secara penuh sebagai orang dewasa, kemampuan dalam bidang pendidikan termasuk mampu didik.

Pendapat lainnya menurut Astati (2001:3) mengelompokkan karakteristik anak tunagrahita ringan menjadi 4 sudut pandang, antara lain: 1) Karakteristik Fisik Penyandang tunagrahita ringan menunjukkan keadaan tubuh yang baik namun bila tidak mendapatkan latihan yang baik kemungkinan akan mengakibatkan postur fisik terlihat kurang serasi. 2) Karakteristik Bicara Dalam berbicara anak tunagrahita ringan menunjukkan kelancaran, hanya saja dalam perbendaharaan katanya terbatas, anak tunagrahita juga mengalami kesulitan dalam menarik kesimpulan mengenai isi dari pembicaraan. 3) Karakteristik Kecerdasan Kecerdasan anak tunagrahita ringan paling tinggi sama dengan anak normal berusia 12 tahun. 4) Karakteritik Pekerjaan Penyandang tunagrahita ringan dapat melakukan pekerjaan yang sifatnya semi skilled atas pekerjaan tertentu yang dapat dijadikan bekal bagi hidupnya.

Berdasarkan keterangan di atas jelas dapat disimpulkan bahwa dengan terbatasnya tingkat kecerdasan yang dimiliki anak tunagrahita ringan mengakibatkan timbulnya masalah yang komplek yang menjadikannya memiliki karakteristik-karakteristik, seperti: mengalami kelemahan dalam kemampuan sensomotorik, sukar berfikir abstrak dan logis, pembendaharaan kata yang terbatas, kurang memiliki kemamuan analisa, kurang mampu mengendalikan perasaan, dan kurang mampu menilai baik dan buruk bagi dirinya. Oleh karena itu guru harus memahaminya agar dapat memberikan pelayanan seoptimal mungkin.

Kebutuhan Belajar Anak Tunagrahita Ringan

Kemampuan anak tunagrahita ringan yang berbeda dengan anak normal pada umumnya, sehingga memiliki kebutuhan belajar khusus yang harus diperhatikan dalam menyusun dan melaksanakan program pembelajaran. Kebutuhan belajar anak tunagrahita ringan menurut Astati dan Mulyati (2010:26) sebagai berikut :

  1. Kebutuhan dalam Layanan Pembelajaran Anak-anak tunagrahita memiliki potensi dalam belajar dan erat kaitannya dengan berat dan ringannya ketunagrahitaan. Kebutuhan khusus yang dimaksud adalah : a. Kebutuhan layanan pengajaran yang sama dengan siswa lainnya. Mereka hanya membutuhkan tambahan pengertian guru dan teman-temannya, tambahan waktu untuk mempelajari sesuatu. b. Kebutuhan layanan pembelajaran yang sangat khusus. Mereka membutuhkan layanan, seperti: program stimulasi dan intervensi dini meliputi: terapi bermain, okupasi, terapi bicara, kemampuan memelihara diri dan belajar akademik.
  2. Kebutuhan Akan Penciptaan Lingkungan Belajar Mereka membutuhkan lingkungan belajar seperti pengaturan tempat duduk yang disesuaikan kondisi anak-anak tunagrahita.
  3. Kebutuhan dalam Pengembangan Kemampuan Bina Diri Anak tunagrahita membutuhkan konteks dan orientasi cerita yang dimulai dari hal yang konkrit kemudian ke hal abstrak.
  4. Kebutuhan dalam Pengembangan Kemampuan Sosial dan Emosi Dalam hal berinteraksi membutuhkan hal-hal kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari yang lain, kebutuhan untuk menemukan perlindungan dari label yang negatif, kebutuhan akan kenyamanan sosial, dan kebutuhan untuk menghilangkan kebosanan dengan adanya stimulasi sosial.
  5. Kebutuhan dalam Pengembangan Kemampuan Keterampilan Beberapa keunggulan tunagrahita yang akan membawa mereka pada hubungannya dengan orang lain, meliputi: (a) spontanitas yang wajar dan positif, (b) kecenderungan untuk merespon orang lain dengan baik dan hangat, (c) kecenderungan merespon pada orang lain dengan jujur, dan (d) kecenderungan untuk mempercayai orang lain.

Mengacu pada pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memberikan pelayanan pendidikan terhadap anak tunagrahita seperti kebutuhan belajar antara lain: kebutuhan akan layanan pembelajaran, kebutuhan akan terapi, kebutuhan waktu belajar yang lebih lama, kebutuhan akan penciptaan lingkungan belajar yang sesuai seperti suasana kelas, tempat duduk, kebutuhan dalam kemampuan pengembangan diri, sosial dan emosi melalui proses interaksi dilingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan rumah.

Pendidikan Bagi Anak Tunagrahita Ringan

Pendidikan bagi anak tunagrahita ringan dirumuskan dengan memperhatikan kebutuhan belajar dan kemampuan mereka, oleh karena itu para pendidik harus menyadari bahwa anak tunagrahita ringan harus dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan di masyarakat. Pendidikan bagi anak tunagrahita ringan menurut Kirk (1979) dalam Astati (2001:13), memiliki tujuan khusus sebagai berikut :

  1. Mengembangkan keterampilan dasar belajar di sekolah, meliputi : membaca, menulis, matematika.
  2. Mengembangkan kebiasaan hidup sehat
  3. Mengembangkan kemampuan sosialisasi
  4. Mengembangkan kemampuan emosional dan rasa aman baik di sekolah maupun di rumah
  5. Menggunakan kemampuan untuk menggunakan waktu luang
  6. Mengembangkan kemampuan keterampilan melalui latihan vokasional
  7. Mengembangkan kemampuan mendorong diri sendiri dalam kegiatan yang sifatnya produktif.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan anak tunagrahita ringan secara umum adalah untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya seperti mengembangkan kemampuannya dalam membaca, menulis, dan berhitung, mengembangkan kemampuan membina diri, mengembangkan kemampuan penghayatan emosi, pemanfaatan waktu luang, dan mengembangkan keterampilan tertentu agar dapat hidup mandiri dimasyarakat.

Struktur Kurikulum

Kurikulum pendidikan yang diberikan kepada anak tunagrahita sesuai dengan kondisi dan potensi anak yang mengacu pada Permendikbud Nomor 40 Tahun 2014

Mohon luangkan waktu untuk share halaman ini di media sosial, agar kami lebih semangat untuk mengupdate konten setiap hari, satu share anda sangat berharga buat kami. Terima Kasih...
Revisi isi halaman ini dengan tombol edit dibawah, apabila menurut anda ada yang keliru, ada yang perlu ditambahkan atau hal lainnya, dengan tujuan agar isi konten lebih baik lagi. Edit